Sore hari di Tugu Eks MTQ kerap menjadi waktu favorit warga untuk berkumpul, beberapa pengunjung duduk santai menikmati angin sore, sementara pedagang kecil melayani pembeli yang datang silih berganti. Tempat ini menjadi salah satu pilihan untuk melepas penat setelah rutinitas harian.
Namun, seiring waktu berjalan dan pengunjung mulai beranjak pulang, pemandangan yang tertinggal justru berbeda. Di beberapa sudut area, terlihat botol minuman, plastik bekas jajanan, hingga bungkus makanan yang dibiarkan begitu saja. Sampah-sampah itu baru terasa keberadaannya ketika suasana mulai sepi.
Tugu Eks MTQ hampir tak pernah benar-benar lengang. Dari pagi hingga malam, kawasan ini digunakan untuk berbagai aktivitas—mulai dari olahraga ringan, berkumpul bersama teman, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga.
Ramainya aktivitas membuat persoalan kebersihan menjadi tantangan tersendiri. Saat sore berganti malam, bau kurang sedap mulai tercium dari beberapa titik. Sebagian pengunjung memilih berpindah tempat, sementara lainnya memutuskan untuk tidak berlama-lama.
Masalah sampah di kawasan ini tidak bisa dilepaskan dari dua hal. Di satu sisi, jumlah tempat sampah yang tersedia masih terbatas dan sering penuh saat kawasan ramai. Di sisi lain, kesadaran sebagian pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya masih perlu ditingkatkan. Kebiasaan meninggalkan sampah seolah menjadi hal yang dianggap biasa.
Kondisi tersebut perlahan memengaruhi kenyamanan bersama. Sampah yang berserakan bukan hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga mengurangi rasa betah. Tempat yang seharusnya menjadi ruang bersantai berubah menjadi area yang cepat ditinggalkan.
Sebagai bagian dari warga kota, terutama generasi muda dan mahasiswa yang juga memanfaatkan tempat ini, menjaga kebersihan seharusnya menjadi perhatian bersama. Tugu Eks MTQ bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang kebersamaan yang perlu dijaga agar tetap nyaman digunakan siapa pun.
Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya soal siapa yang membersihkan, tetapi siapa yang peduli. Sebab, kenyamanan sebuah tempat tak hanya ditentukan oleh seberapa ramai ia dikunjungi, tetapi oleh bagaimana pengunjung meninggalkannya.
Penulis:
Muhammad Giyan (C1D323105)
Muh Tasbir (C1D323099)
Savero Maisal L (C1D323121)

Komentar