160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
banner 728x250 banner 728x250

Cegah Suap, Polda Sultra Terapkan Inovasi CR Code Penerimaan Anggota Polri

Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) menerapkan inovasi sistem coding barcode dalam pemeriksaan tahap awal seleksi penerimaan anggota Polri 2024.(Foto: Humas Polda Sultra)

MATALOKAL.COM, KENDARI – Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) menerapkan inovasi sistem coding barcode dalam pemeriksaan tahap awal seleksi penerimaan anggota Polri 2024.

Inovasi tersebut diresmikan Karo SDM Polda Sultra Kombes Pol Danang Beny K didampingi Kabid Dokkes Polda Sultra Kombes Pol drg Ignatius Hendra Arifianto, dan Kasubagdiapers Bagdalpers RO SDM Polda Sultra Kompol Magdalena Anita Simanjuntak di Aula Dharana Lastarya, Sabtu 20 April 2024.

Coding barcode ini bertujuan untuk meminimalisir dan mencegah kecurangan terutama suap dalam penerimaan Polri. Setiap peserta seleksi akan diberikan 10 lembar nomor barcode yang nantinya akan ditempelkan di masing-masing lembar tahapan proses pemeriksaan.

Karo SDM Polda Sultra Kombes Pol Danang Beny mengatakan, hadirnya coding barcode ini akan merahasiakan data peserta sehingga dapat meminimalisir praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

“Sekarang yang dilihat (panitia) itu barcode, jadi kerahasiaan data peserta yang ikut tes itu lebih terjaga,” jelas Kombes Pol Danang Beny.

Polisi berpangkat tiga bunga melati emas itu berharap, terobosan dari Biro SDM Polda Sultra tersebut dapat diketahui dan dipahami masyarakat, bahwa seluruh tahapan seleksi penerimaan Polri berjalan dengan transparan, akuntabel dan objektif.

Sementara itu, Kabid Dokkes Polda Sultra Kombes Pol drg Ignatius Hendra Arifianto mengapresiasi terobosan terbaru itu dalam mewujudkan seleksi anggota Polri yang bersih, transparan, akuntabel dan humanis.

“Kami dari Biddokkes bersyukur dengan adanya barcode ini karena kerahasiaan, objektivitas bisa terjaga sehingga tidak ada lagi saling mencurigai bahwa ada permainan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kata drg Hendra, dengan coding barcode tersebut, tim kesehatan yang melakukan pemeriksaan tidak mengetahui data diri peserta seleksi.

“Anggota tim kesehatan yang memeriksa itu tidak tahu, siapa yang diperiksa, ini anaknya siapa karena semua terahasiakan di barcode tadi,” pungkasnya.(*)

Editor: Fadli Aksar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like